Perspektif Baru Dalam Dunia Pendidikan di Indonesia – Pengalaman Kerja di CIPS sebagai Researcher

Hai, perkenalkan nama gue Baghas. Pada kesempatan ini gue mau sedikit berbagi cerita pengalaman gue bekerja di sebuah organisasi non-pemerintah (NGO kalo nama kerennya). Sedikit background story dari organisasi ini; namanya Center for Indonesian Policy Studies – biasanya anak-anak kantor ini nyebutnya CIPS (baca: cips, kaya potato chips). CIPS merupakan sebuah organisasi think tank (Google it) non-pemerintah yang sifatnya non-profit. Organisasi ini membuat dan menerbitkan penelitian mengenai kebijakan pemerintah di Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah; dan karena sifatnya non-profit, pendanaan didapat dari donor (penyumbang dana) dari dalam dan luar negeri. Untuk informasi lebih lanjut mengenai CIPS, lo bisa langsung aja cekidot https://www.cips-indonesia.org/.

Gue mulai bekerja di CIPS pada pertengahan tahun 2018 lalu sebagai salah seorang peneliti kebijakan. Gue ditugaskan untuk mengambil alih proyek riset di bidang pendidikan nasional dan bidang kesejahteraan masyarakat. Tanggung jawab gue sebagai seorang peneliti kebijakan di CIPS cukup berat karena disini gue berperan sebagai pemimpin proyek riset, penulis serta sebagai ujung tombak organisasi dalam melakukan usaha publikasi hasil penelitian CIPS*. Meskipun begitu, gue melihat beban tanggung jawab gue di CIPS sebagai sebuah tantangan menarik dan juga sebuah kesempatan besar buat gue belajar banyak hal baru. Seperti yang gue harapkan, selama hampir setahun gue bekerja di CIPS sudah membuat gue belajar banyak hal baru dan mengubah cara gue memandang kebijakan dan politik di Indonesia. 

Dari banyak hal yang bisa gue bagi sama lo pada kesempatan kali ini, secara spesifik gue mau ceritain pengalaman lapangan selama gue memimpin proyek penelitian mengenai sekolah swasta. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah peran sekolah swasta dalam memberikan pelayanan pendidikan bagi orang miskin dapat diperhitungkan; jika iya, bagaimana sekolah swasta ini dapat membantu peranan sekolah negeri untuk mencapai tujuan yang sama. Nah, karena proyek penelitian ini menuntut gue untuk turun ke lapangan dalam melakukan pengumpulan data, jadi gue memiliki kesempatan untuk melihat dan memahami keadaan pendidikan Republik ini. 

Trip  pertama, gue pergi ke beberapa daerah paling miskin di Jakarta untuk meninjau beberapa sekolah swasta yang katanya hanya memungut biaya dari siswanya dengan sangat murah dan bahkan gratis! Awalnya gue ga percaya; logika gue sekolah swasta itu beroperasi dari uang yang dipungut dari siswa. Beda dengan sekolah negeri yang biaya operasionalnya berasal dari pemerintah (alias duit rakyat, pendapatan negara, dll). Kalau sekolah swasta cuma memungut uang dengan jumlah yang kecil atau bahkan tidak memungut uang sama sekali dari siswanya, dengan apakah sekolah itu membiayai operasional mereka? Emang gedung sekolahnya ga bayar? Emang listrik ga bayar? Emang air ga bayar? Guru-guru nya mau digaji pake cinta? Jaman sekarang, sekali pipis aja disuruh bayar Rp 2.000. Dengan berbagai macam asumsi dan kecurigaan, gue datang mengunjungi 3 sekolah, 1 SD, 1 MI dan 1 SMK. Gue ketemu dan berbincang dengan kepala sekolahnya, guru-guru nya, orang tua siswa, ditambah gue main dengan beberapa siswa SD/MI yang bau nya asem-asem karena habis lari-larian di bawah teriknya langit Jakarta.

Sepulangnya dari trip tersebut, asumsi gue terhadap sekolah swasta yang selalu business-oriented (selalu cari duit) langsung terpatahkan. Ternyata di DKI Jakarta, kota metropolitan dimana biaya hidup itu tinggi, dengan ketimpangan sosial yang besar; ada loh sebagian kecil dari masyarakat marginal yang murni ingin mengusahakan masa depan yang lebih baik buat anak-anak yang kurang beruntung tersebut. 1 SD yang gue kunjungi hanya memungut uang sekolah sebesar Rp 130.000 sebulan, SMK Rp 250.000, dan MI malah tidak memungut biaya apapun dari siswa/i mereka. Gue sangat terkejut. 

Yang bikin gue lebih terkejut adalah, cerita perjuangan para pendiri sekolah tersebut (si kepala sekolah). Para kepala sekolah ini sudah lanjut usia semua, mereka merintis sekolah-sekolah ini dari sekitar tahun 1950 – 1970 silam. Semua berawal dari kepedulian mereka dengan beberapa anak tetangga mereka yang putus sekolah pada waktu itu karena kekurangan biaya (pada waktu itu sekolah negeri belum gratis kaya sekarang, cui). Dengan melihat kebutuhan tersebut, mereka akhirnya membuka kelas-kelas gratis di rumah mereka sendiri. Seiring berjalannya waktu, para pendiri sekolah ini berhasil mengumpulkan sejumlah dana (dari dana pribadi maupun sumbangan) untuk membangun fasilitas pendidikan yang layak bagi para siswanya. 

Ada 1 cerita perjuangan yang bikin gue sangat terharu. Kepala sekolah MI (yang gratis) bercerita, demi kelangsungan operasional sekolahnya; dia rela mengemis dari rumah ke rumah dan bekerja sampingan untuk memperoleh uang untuk memberi gaji para guru dan biaya operasional sekolah. Dia ga bisa memungut uang dari orang tua siswa, karena kalau sekolahnya berbayar, orang tua siswa ga akan lagi mau nyekolahin anaknya. Gratis aja kadang ga mau, apalagi bayar. Terus gue tanya ke kepala sekolah ini, “kan sekolah negeri gratis, kenapa ga di sekolah negeri aja mereka sekolahnya?”. Ternyata, sekolah negeri gratis itu sebetulnya ga gratis juga; karena orangtua murid harus mengeluarkan biaya untuk seragam, buku, bahkan ga sedikit juga sekolah negeri yang suka “iseng” untuk morotin orang tua siswa yang kurang mampu tersebut. Sementara, kepala sekolah MI ini bilang bahwa dia ingin anak-anak yang ga mampu tersebut juga bisa mendapatkan pendidikan yang layak; makanya di MI ini bagi siswa-siswa yang ga mampu, diberikan buku, seragam dan yang sejenisnya, gratis juga. At this point, gue sangat tercengang karena itu merupakan kali pertama gue ketemu dengan orang yang mau berusaha sedemikian rupa, mengorbankan banyak hal demi kepentingan anak-anak kurang mampu di Jakarta.

Ada beberapa hal yang bisa gue petik dari pengalaman ini: 

  1. Ga semua sekolah swasta itu business-oriented.
  2. Masih ada orang-orang yang sangat peduli terhadap pelayanan pendidikan bagi masyarakat miskin.
  3. Pemenuhan cita-cita Republik ini dalam dunia pendidikan dasar masih belum maksimal. Kalo lo perhatiin, itu baru cerita dari Jakarta loh, gue ga kebayang sih cerita dari daerah 3T (tertinggal, Terdepan dan Terluar) Indonesia bakal kaya apa.
  4. Jangan berpikir bahwa masyarakat miskin ga perduli dengan pendidikan, komunitas marginal punya usaha untuk meningkatkan kesejahteraan komunitas mereka. Sekolah-sekolah tersebut merupakan bukti “of the people, by the people and for the people” – kayanya ini quotes gitu deh dari tokoh penting, tapi siapa ya? 

Tanpa gue sadari, tulisan gue cukup panjang. Sekian dulu cerita pengalaman kerja gue kali ini, mungkin di lain kesempatan gue akan bisa berbagi cerita lagi dengan lo – until next time. 

Note: Kala itu, pengalaman gue sebagai seorang peneliti masih bisa dibilang cukup hijau since gue baru memiliki 1 tahun pengalaman sebagai peneliti di perusahaan market research (ga nyambung banget sih, gue tau), ditambah lagi gue cukup buta mengenai kebijakan dan hukum pada umumnya (tentu, karena background akademik gue Psikologi, bukan hukum, politik atau sejenisnya). Sangat tidak relevan ya sebetulnya pengalaman dan background akademik gue.

Latest Reviews

More Stories
Tips Menulis CV dengan Baik dan Benar